🔑 Ringkasan Singkat
- Kepala Satgas Nasional Program Fasilitasi Investasi Infrastruktur (PFII), Rosan P. Roeslani, menjelaskan alasan strategis pemilihan Jakarta dan Bali sebagai lokasi utama PFII 2026.
- Jakarta diprioritaskan sebagai pusat pengambilan keputusan dan magnet investasi proyek infrastruktur vital berskala nasional, didukung konektivitas dan kapasitas kelembagaan yang tak tertandingi.
- Bali dipilih sebagai etalase inovasi berkelanjutan dan gerbang investasi internasional, menyoroti sektor pariwisata hijau, ekonomi digital, serta energi terbarukan.
JAKARTA – Kepala Satgas Nasional Program Fasilitasi Investasi Infrastruktur (PFII), Rosan P. Roeslani, akhirnya membuka suara mengenai keputusan strategis penunjukan Jakarta dan Bali sebagai lokasi utama penyelenggaraan PFII 2026. Dalam sebuah konferensi pers virtual yang digelar pagi ini, Rosan menegaskan bahwa pilihan ini didasarkan pada pertimbangan matang yang selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 dan target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tahun 2026.
“Pemilihan Jakarta dan Bali sebagai epicentrum PFII 2026 bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil analisis mendalam mengenai potensi dan peran strategis masing-masing daerah dalam peta investasi infrastruktur nasional dan global,” ujar Rosan, Selasa (7/10/2026). Menurutnya, kedua kota ini menawarkan kombinasi unik yang esensial untuk menarik kapital dan keahlian yang dibutuhkan Indonesia.
Jakarta: Jantung Ekonomi dan Pusat Keputusan Strategis
Rosan menjelaskan bahwa Jakarta, sebagai ibu kota negara dan pusat aktivitas ekonomi, merupakan pilihan tak terhindarkan untuk segmen diskusi investasi yang berfokus pada proyek-proyek berskala nasional dan kebijakan makro. “Jakarta adalah tempat di mana keputusan-keputusan besar dibuat. Di sinilah para pembuat kebijakan, institusi keuangan, dan korporasi multinasional berkumpul,” terangnya.
Fokus di Jakarta akan meliputi proyek-proyek infrastruktur krusial seperti pengembangan transportasi massal terintegrasi, infrastruktur digitalisasi perkotaan, serta peningkatan kapasitas logistik nasional. Konektivitas yang superior, fasilitas pertemuan kelas dunia, dan akses langsung ke otoritas pemerintah menjadikan Jakarta hub yang ideal bagi investor yang mencari proyek-proyek berdampak besar dan berorientasi jangka panjang.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap dolar investasi yang masuk dapat segera diterjemahkan menjadi proyek konkret yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh penjuru negeri,” tambah Rosan, menekankan efisiensi dan transparansi yang menjadi pilar utama PFII 2026.
Bali: Gerbang Internasional dan Laboratorium Inovasi Berkelanjutan
Sementara itu, Bali memainkan peran komplementer namun sama vitalnya sebagai gerbang bagi investasi internasional dan platform untuk menampilkan inovasi berkelanjutan. “Bali memiliki daya tarik global yang tak terbantahkan. Ini adalah tempat yang sempurna untuk menarik investor dari berbagai belahan dunia, terutama mereka yang tertarik pada konsep pariwisata hijau, ekonomi digital, dan energi terbarukan,” kata Rosan.
Lokasi ini akan menjadi panggung bagi proyek-proyek yang berorientasi pada keberlanjutan, seperti pengembangan infrastruktur energi bersih, smart tourism, pengelolaan limbah terintegrasi, dan dukungan ekosistem ekonomi kreatif dan digital. Kemampuan Bali dalam menyelenggarakan acara internasional berskala besar, didukung oleh fasilitas MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) yang canggih, akan memaksimalkan eksposur PFII kepada audiens global.
“Kami melihat Bali sebagai laboratorium hidup di mana inovasi infrastruktur berkelanjutan dapat diperlihatkan dan direplikasi. Ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pembangunan yang ramah lingkungan sekaligus menarik investasi yang bertanggung jawab,” pungkas Rosan.
Visi PFII untuk Pertumbuhan Ekonomi 2026 dan Setelahnya
PFII 2026 diharapkan dapat menarik komitmen investasi signifikan yang akan mendorong percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Targetnya adalah menopang proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5.3% – 5.5% untuk tahun 2026, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing global.
Dr. Sri Mulyati, seorang ekonom senior dari Pusat Studi Ekonomi Pembangunan (PSEP), menyambut baik strategi ini. “Pendekatan dua kota ini sangat cerdas. Jakarta menangani ‘otak’ dan ‘otot’ kebijakan serta proyek berskala besar, sementara Bali menjadi ‘jendela’ dan ‘laboratorium’ bagi inovasi dan investasi global yang selaras dengan tren keberlanjutan. Ini adalah formula yang kuat untuk menstimulasi aliran modal dan teknologi,” jelasnya.
Dengan sinergi antara Jakarta dan Bali, PFII 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertemuan bisnis, tetapi juga katalisator bagi transformasi infrastruktur Indonesia menuju masa depan yang lebih kokoh dan hijau.
❓ Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu PFII?
PFII adalah Program Fasilitasi Investasi Infrastruktur Indonesia, sebuah inisiatif nasional yang dirancang untuk menarik investasi domestik dan internasional guna mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia.
Mengapa Jakarta dipilih sebagai lokasi PFII?
Jakarta dipilih karena perannya sebagai ibu kota negara, pusat keuangan dan pemerintahan, serta lokasi strategis untuk membahas proyek-proyek berskala nasional dan kebijakan makro ekonomi dengan akses langsung ke pembuat keputusan.
Mengapa Bali menjadi pilihan lokasi PFII?
Bali dipilih karena daya tarik internasionalnya, fasilitas MICE kelas dunia, dan potensinya sebagai etalase untuk investasi berkelanjutan, pariwisata hijau, dan ekonomi digital, menarik investor global yang fokus pada inovasi ramah lingkungan.